
PADI
YANNO AGRO SCIENCE INDONESIA
Tanaman
Padi
Tanaman padi ( Oryza sativa L. ) merupakan tanaman pangan paling vital di dunia, khususnya di Asia, yang menjadi sumber karbohidrat utama bagi miliaran manusia. Sebagai anggota famili Poaceae (rumput-rumputan), padi memiliki karakteristik botani yang unik dan siklus hidup yang sangat adaptif terhadap lingkungan berair. Berikut adalah tahapan teknis budidaya padi sawah untuk mencapai produktivitas optimal.
1. Persiapan Lahan dan Benih
Keberhasilan dimulai dari media tanam dan kualitas genetik tanaman.
Pengolahan Tanah: Lakukan pembajakan (singkal) sedalam 15–20 cm untuk membalik tanah, dilanjutkan dengan penggaruan untuk melumpurkan tanah. Biarkan tanah tergenang selama 1–2 minggu untuk membusukkan sisa organik.
Seleksi Benih: Gunakan benih bersertifikat (label biru). Lakukan uji bernas dengan merendam benih dalam larutan garam (indikator telur mengapung). Benih yang tenggelam adalah yang layak tanam.
Perlakuan Benih (Seed Treatment): Rendam benih selama 24 jam dan peram selama 24–48 jam hingga muncul radikula (calon akar).
2. Persemaian dan Penanaman
Persemaian: Luas persemaian ideal adalah 1/20 dari luas lahan tanam. Gunakan campuran pupuk organik dan sedikit TSP/SP-36 pada bedengan semai.
Waktu Tanam: Pindahkan bibit (transplanting) pada usia muda, yaitu 15–21 hari setelah sebar (HSS). Bibit muda memiliki daya adaptasi dan potensi anakan yang lebih tinggi.
Sistem Tanam: Sangat disarankan menggunakan sistem Jajar Legowo (2:1 atau 4:1). Sistem ini menciptakan efek tanaman pinggir yang meningkatkan fotosintesis dan memudahkan pengendalian gulma serta pemupukan.
3. Manajemen Nutrisi (Pemupukan)
Pemupukan harus didasarkan pada prinsip 5T (Tepat jenis, dosis, waktu, cara, dan sasaran).
Pupuk Dasar: Berikan organik (kompos/pukand) dan pupuk P (SP-36/TSP) saat olah tanah terakhir.
Pupuk Susulan I (7–10 HST): Fokus pada pembentukan akar dan anakan (Urea + NPK).
Pupuk Susulan II (21–25 HST): Fokus pada maksimalisasi jumlah anakan aktif.
Pupuk Susulan III (45 HST): Berikan saat memasuki fase primordia (bunga) dengan fokus pada unsur Kalium (KCl) untuk pengisian bulir dan kekuatan batang.
4. Manajemen Pengairan
Padi sawah tidak harus selalu tergenang dalam (macak-macak).
Intermittent Irrigation (Pengairan Berselang): Lakukan siklus penggenangan dan pengeringan. Ini bertujuan untuk memberi kesempatan akar bernapas (aerasi), menekan pertumbuhan gulma, dan mencegah akumulasi gas beracun (H2S) di dalam tanah.
5. Perlindungan Tanaman (Pest Management)
Gunakan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT):
Gulma: Lakukan penyiangan pada umur 21 dan 42 HST menggunakan alat gasrok atau herbisida selektif jika populasi tinggi.
Hama Utama: Pantau keberadaan Wereng Batang Coklat (WBC), Penggerek Batang (Sundep/Beluk), dan Walang Sangit. Gunakan insektisida dengan cara kerja sistemik atau kontak sesuai dengan ambang ekonomi.
Penyakit: Waspadai jamur Pyricularia oryzae (Blas) dan bakteri Xanthomonas (Hawar Daun). Penggunaan fungisida berbahan aktif golongan triazol atau strubilurin sangat efektif untuk menjaga kesehatan daun bendera.
6. Panen dan Pascapanen
Ciri Panen: 90–95% bulir sudah menguning dan kadar air gabah berkisar 22–26%.
Metode: Gunakan combine harvester untuk menekan tingkat kehilangan hasil (losses) hingga di bawah 10%, dibandingkan pemotongan manual.
Peta Lengkap Hama Padi dari Awal Tanam Sampai Panen
| Umur | Fase Tanaman | Hama Dominan | Potensi Kerusakan | Insektisida Anjuran & Produk |
|---|---|---|---|---|
| 0–15 HST | Adaptasi | Keong mas, ulat tanah | Bibit habis | ![]() Carbufuron: antisipasi penggerek batang, biasa dicampur dengan pemupukan pertama. ![]() Biofuron: Herbi pratumbuh. ![]() Antikeong: keong. |
| 15–30 HST | Vegetatif awal | Penggerek batang, ulat grayak | Sundep |
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() HINOW-Abaktin & HINOW-Emaktin: Sesuai Kondisi lapangan. |
| 30–45 HST | Vegetatif aktif | Wereng batang coklat | Tanaman menguning | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() HINOW-Abaktin & HINOW-Emaktin: Sesuai Kondisi lapangan. ![]() ![]() ![]() Fungisida Malaka: lebih baik untuk prepentif patah leher dan kresek. ![]() ![]() ![]() ![]() Diva: dipakai 2 x bisa menyebabkan malai lebih berisi. |
| 45–60 HST | Pembentukan malai | Penggerek batang | Sundep | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() HINOW-Abaktin & HINOW-Emaktin: Sesuai Kondisi lapangan. Pada umur ini termasuk kedalam fase rentan. Hinow dinaikan dosis menadi 10ml/ltr karena rumpunnya sudah banyak. ![]() ![]() ![]() Fungisida Malaka: lebih baik untuk preventif patah leher dan kresek. ![]() ![]() ![]() ![]() Diva: dipakai 2x bisa menyebabkan malai berat. |
| 60–75 HST | Pembungaan | Walang sangit | Bulir hampa | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() Diva: 1 kali dengan Supercide (untuk walang sangit). Bisa di Mix asal pencampuran di wadah ember. Untuk walang sangit lebi bagus shepia daripada supercide, akan tetapi Shepia terlalu bau menyengat. |
| 75–100 HST | Pengisian bulir | Walang sangit, tikus | Penurunan hasil | - |
Catatan Produk Tambahan & Tips Agronomis:
Pleno: Hanya pada saat benar-benar ada serangan wereng.
Wilbo plus: Saat ada serangan ulat grayak.
Jimat: digunakan sebagai bahan pencampur Hinow.
Tips Agronomis: Selalu perhatikan sanitasi lingkungan sawah. Pembersihan pematang dari gulma dapat memutus siklus hidup hama seperti tikus dan wereng sebelum mereka menyerang tanaman utama.







